Ketum Waraney Puser In’Tana: Jaga Adat dan Kedamaian, Warga Jangan Mudah Terprovokasi
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, POJOKSULUT.COM – Rencana kedatangan Ustaz Abdul Somad (UAS) ke Kotamobagu memicu respons cepat dari tatanan masyarakat adat.
Dewan Pengurus Besar (DPB) LSM Adat Waraney Puser In’Tana Toar Lumimuut Sulawesi Utara langsung mengeluarkan pernyataan sikap resmi, Sabtu, 23 Mei 2026.
Langkah ini menjadi bukti bahwa masyarakat lingkar adat tidak mau kecolongan dalam menjaga kedamaian regional.
Bagi masyarakat Sulawesi Utara, merawat toleransi bukan lagi sekadar slogan di baliho pinggir jalan.
Wilayah Bolaang Mongondow Raya sudah lama menjadi laboratorium kerukunan antarumat beragama yang hidup berdampingan tanpa sekat.
Itulah mengapa organisasi adat ini merasa perlu membentengi moralitas daerah lewat falsafah Sitou Timou Tumou Tou, sebuah prinsip luhur untuk saling memanusiakan manusia.
Mereka terbuka pada setiap syiar keagamaan, namun menutup pintu rapat-rapat bagi narasi yang berpotensi memecah belah bangsa.
Sikap waspada ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk desakan konkret kepada pemangku kebijakan.
LSM Adat Waraney meminta Pemerintah Kota Kotamobagu, TNI, dan Kepolisian untuk melakukan pengawasan melekat di lapangan.
Aparat keamanan diharapkan tidak ragu mengambil tindakan hukum seketika jika menemukan indikasi ujaran kebencian selama acara berlangsung.
Sanksi tegas berupa penghentian ceramah menjadi batasan mutlak demi menjaga marwah Pancasila dan NKRI di tanah leluhur.
Di balik ketegasan tersebut, pengurus besar yang ditandatangani oleh Ketua Umum John F. S. Pandeirot dan Sekretaris Jenderal Michael M. Worang ini tetap mendinginkan suasana.
Mereka mengimbau seluruh elemen pemuda dan ormas keagamaan di Sulawesi Utara agar tidak mudah terprovokasi.
Menjaga kepala tetap dingin dan meningkatkan kewaspadaan menjadi kunci utama agar iklim kondusif di Kotamobagu tidak goyah oleh dinamika apa pun. (*)
- Penulis: Anes Walean

Saat ini belum ada komentar