Nomor Antrean yang Mengusir ‘Tidur di Truk’
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
- visibility 94
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, POJOKSULUT.COM — Jalan raya di sekitar SPBU Kawangkoan akhirnya bernapas lega.
Jumat hari ini (22/5/2026), tidak ada lagi pemandangan truk yang mengular panjang.
Waktu itu sangat macet. Penyebabnya klasik, antrean kendaraan pengisi solar.
Sekarang, pemandangan itu hilang. Bersih. Jalur jalan tampak jauh lebih tertib.

Kuncinya ternyata sederhana. Hanya selembar nomor antrean.
Kebijakan baru ini terbukti efektif. Bukan hanya mengontrol distribusi solar, tapi juga menghapus kebiasaan lama para sopir, menginap di dalam truk.
Pengelola SPBU Kawangkoan, Refly Nayoan, memutar otak. Kebijakan pembagian nomor urut ini sengaja dia tempuh sebagai jalan keluar operasional.
Tujuannya jelas. Pihak manajemen ingin menyaring kendaraan secara terukur. Mencegah penumpukan kendaraan di lokasi.
Efeknya langsung terasa. Para sopir truk tidak perlu lagi memarkir armada mereka sejak malam hari. Hanya demi mengamankan kuota solar.
Kini, pelayanan pengisian solar diatur ketat. Kuncinya ya nomor urut resmi yang dibagikan sebelumnya itu.
Vero Mapaliey tersenyum lega. Sopir truk ini mengaku sangat terbantu. Ada kepastian pasokan.
Vero sudah mengantongi nomor sejak Rabu lalu (20/5/2026). Begitu datang, dia langsung mendapatkan prioritas pelayanan. Tanpa cemas, tanpa takut kehabisan jatah BBM.
Namun, sistem yang baik butuh ketegasan. Refly tahu benar soal itu. Maka, manajemen menerapkan pengawasan internal yang sangat ketat.
Refly tidak mau berkompromi. Jangan coba-coba ada praktik kecurangan oleh operator di lapangan.
Aturannya tegas. Petugas yang kedapatan melayani kendaraan di luar prosedur nomor urut akan langsung dijatuhi sanksi.
Tidak main-main. Skorsing selama satu bulan. Setelah itu, pelanggaran tersebut akan dilaporkan resmi kepada Pertamina.
Sebuah langkah tegas dari Kawangkoan. (nes)
- Penulis: Anes Walean

Saat ini belum ada komentar