Menguntai Doa di Tondano, Cara Umat Santa Theresia Passo Merawat Soliditas Lewat Rosario
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Senin, 1 Jun 2026
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, POJOKSULUT.COM – Bagi umat Katolik, Bulan Rosario bukan sekadar barisan tanggal di kalender liturgi.
Ia adalah madah rindu kepada Bunda Maria, sebuah perenungan teologis yang puncaknya dirayakan dalam kebersamaan.
Sabtu (30/5/2026), esensi iman itu mewujud nyata saat umat Wilayah Rohani Santa Theresia Passo bergerak bersama menuju Paroki Santa Rosa de Lima, Tondano, Minahasa.
Perjalanan spiritual untuk menutup Bulan Rosario ini menjadi panggung indahnya sebuah kerja sama.

Di bawah komando Diane Kaeng (Ketua), Stery Kumaseh (Sekretaris), dan Veine Kario (Bendahara), mobilitas umat terjaga dalam ritme yang aman, tertib, dan lancar.
Sebuah bukti bahwa soliditas organisasi gerejani tidak sekadar hidup, tapi juga mandiri dan tangguh.
Di dalam kekhusyukan gereja, Pastor Fransiskus Marlino Lolok MSC memimpin ibadah dengan pesan pastoral.
Ia mengingatkan jemaat bahwa untaian doa harus bertransformasi menjadi aksi nyata.
Hari itu, umat Santa Theresia Passo tidak hanya pulang membawa berkah ritual.
Lebih dari itu, mereka berhasil mengaktualisasikan esensi iman yang hidup: sebuah ibadah yang tertib, berdampak rohani, dan sukses merekatkan kembali tali silaturahmi kekeluargaan antar stasi. (*)
- Penulis: Anes Walean

Saat ini belum ada komentar