Menjaga ‘Gol’ di Tondano, Saat Kodim 1302/Minahasa dan Forkopimda Nobar Bareng Warga
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 20 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oplus_131072
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TONDANO, POJOKSULUT.COM – Tondano tidak tidur. Pukul 02.00 WITA, Senin dini hari tadi, suasana di Lapangan Dr. Sam Ratulangi atau yang lebih dikenal sebagai Taman God Bless justru sedang panas-panasnya. Bukan karena cuaca. Tapi karena bola.
Final FIFA World Cup 2026. Spanyol melawan Argentina. Dua raksasa sepak bola dunia.
Di Tondano, jarak ribuan kilometer tidak membuat atmosfer final terasa jauh. Ribuan pasang mata tertuju pada satu layar besar. Namun, di balik riuhnya sorak-sorai penonton, ada “pemandangan” lain yang lebih menarik perhatian saya: soliditas.
TNI dan Polri tidak sedang menjaga demo. Mereka tidak sedang bersiaga karena ancaman. Mereka di sana untuk menjaga kegembiraan.
Letkol Inf. Bonaventura Ageng F.S. adalah orang yang bertanggung jawab atas ketenangan malam itu.
Dandim 1302/Minahasa ini tidak mau ambil risiko. Pukul 02.00 dini hari, saat orang lain mungkin sedang lelap-lelapnya, ia sudah memimpin apel di kediamannya.
Memastikan pasukannya siap. Bukan untuk berperang, tapi memastikan rakyatnya bisa berteriak “gol” dengan tenang.
“Kehadiran kami di sini tidak hanya untuk memeriahkan laga final,” ujar Letkol Bonaventura. “Yang utama adalah memberikan rasa aman.”
Kalimat yang sederhana, tapi berat implementasinya.
Di lapangan, pemandangan itu terasa begitu cair. Ketua DPRD Minahasa Frangky Wolayan, Kapolres AKBP Steven J.R. Simbar, Kajari Rama Eka Darma, hingga Asisten III Setdakab Jani H. Moniung, semua duduk bersama. Tidak ada sekat. Tidak ada protokol yang kaku.
Ini adalah bentuk sinergitas yang sesungguhnya. Sinergi yang tidak hanya lewat rapat-rapat di ruang ber-AC, tapi sinergi yang diuji di lapangan terbuka, di tengah hiruk-pikuk pendukung bola.
Jani Moniung mewakili Pemkab Minahasa memberikan apresiasi. Sangat beralasan. Memastikan kerumunan massa tetap kondusif di jam-jam rawan itu bukan pekerjaan mudah.
Pertandingan pun berakhir. Spanyol menang tipis 1-0 lewat gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu.
Argentina harus pulang dengan tangan hampa. Tapi, di Tondano, tidak ada yang pulang dengan rasa kecewa berlebih. Semua pulang dengan tertib.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama. Aparat dan masyarakat berbaur.
Menjadi simbol bahwa di tanah Minahasa, keamanan bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Ia tumbuh dari keakraban.
Malam itu, Tondano membuktikan: sepak bola memang menyatukan. Tapi, sinergi yang matanglah yang membuat persatuan itu tetap kokoh. (*)
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar