Dedikasi untuk Tanah Kelahiran: John F. Koampa Siap Berikan yang Terbaik untuk Tombasian Atas
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, POJOKSULUT.COM – Tiga puluh tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama kurun waktu tersebut, John F. Koampa, S.Pd., mendedikasikan seluruh energinya di ruang-ruang kelas, membentuk karakter generasi muda, dan menanamkan nilai-nilai disiplin sebagai seorang guru serta Kepala Sekolah SMP Negeri 6 Kawangkoan selama 17 tahun.
Kini, setelah purna tugas dari dunia pendidikan, John tidak memilih untuk beristirahat di balik kenyamanan masa pensiun. Ia justru memilih “jalan pengabdian” yang baru.
Dengan nomor urut 3 di Pemilihan Hukum Tua (Pilhut) Desa Tombasian Atas, ia membawa semangat yang sama seperti saat ia berdiri di depan kelas: semangat untuk mendidik, melayani, dan membangun.
”Dari ruang sekolah menuju balai desa,” ungkap John dengan mantap. Baginya, memimpin desa adalah kelanjutan dari tanggung jawab moral yang ia pegang selama puluhan tahun.
Ia menyadari bahwa desa membutuhkan sentuhan pemimpin yang memiliki integritas tinggi. Visinya untuk mewujudkan Desa Tombasian Atas yang Maju, Mandiri, Aman, Sejahtera yang Berkeadilan bukan sekadar slogan di atas kertas.
Ia menawarkan “kurikulum” tata kelola desa yang jujur dan transparan, hal yang menurutnya menjadi fondasi dasar agar tidak ada lagi penyimpangan dalam pembangunan.
Tak hanya soal administrasi, sisi kreatif John sebagai seorang pelukis menjadi nilai tambah yang unik.
Ketelitian seorang pelukis dalam menggoreskan warna di atas kanvas akan ia terapkan dalam mengelola detail pembangunan sarana prasarana fisik serta pendidikan di desa.
Ia ingin memastikan setiap rupiah dana desa berputar untuk kesejahteraan warga melalui BUMDes yang efektif, bukan hanya sekadar catatan administratif.
Lebih dari itu, John membawa misi yang menyejukkan: menciptakan harmoni antar denominasi gereja. Ia paham betul, tanpa harmoni, pembangunan hanyalah tumpukan batu dan semen yang dingin.
”Dari ruang sekolah, saya membawa integritas. Dari kanvas lukisan saya, saya membawa imajinasi tentang desa yang lebih berwarna,” ujarnya.
Kini, Tombasian Atas menanti langkah baru. Sosok “guru” yang telah teruji dedikasinya ini kini berdiri siap, menawarkan hati dan pengalamannya untuk membawa perubahan nyata bagi tanah kelahirannya. (nes)
- Penulis: Anes Walean

Saat ini belum ada komentar