Tutup Festival Literasi 2026, Gubernur Sulut: Kemajuan Daerah Butuh SDM Berpikir Kritis dan Berakar Budaya
- account_circle Anes Walean
- calendar_month Senin, 5 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, POJOKSULUT.COM – Festival Literasi Sulawesi Utara 2026 resmi ditutup di Museum Negeri Sulawesi Utara, Minggu (4/10/2026) malam.
Mengusung tema “Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban”, ajang ini menegaskan bahwa literasi memiliki makna strategis yang jauh melampaui sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan sebagai fondasi utama pembangunan peradaban daerah.

Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus. (Foto: Dok/istimewa)
Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus dalam arahannya saat penutupan menegaskan, literasi adalah instrumen penting untuk memahami realitas, mengasah kemampuan berpikir kritis, serta membaca perubahan zaman di tengah derasnya arus informasi.
“Peradaban yang maju dan berkeadaban dibangun di atas fondasi literasi yang kokoh,” ujar Yulius di hadapan para pegiat literasi, pelajar, dan masyarakat yang memadati museum.
Menurutnya, kemajuan sebuah daerah tidak boleh hanya diukur dari pembangunan infrastruktur fisik dan pertumbuhan ekonomi semata.

Di balik kemajuan yang berkelanjutan, Sulawesi Utara membutuhkan sumber daya manusia yang berpengetahuan luas, kreatif, serta memiliki akar budaya yang kuat.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memandang literasi bukan sekadar program instan, melainkan tanggung jawab kolektif.
Sekolah, perguruan tinggi, keluarga, komunitas, hingga generasi muda didorong untuk mengambil peran aktif dalam membangun ekosistem masyarakat yang gemar membaca dan produktif melahirkan karya.

Festival ini sukses menjadi ruang perjumpaan lintas gagasan, tempat bertemunya pemikiran kreatif, serta wadah apresiasi bagi talenta-talenta muda literasi.
Gubernur Yulius turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen yang menyukseskan acara ini, termasuk Pengurus Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU), Perpustakaan Nasional, serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Utara.
Di tengah dinamika globalisasi yang bergerak cepat, merawat kearifan lokal dinilai bukan sebagai langkah mundur.
Justru, nilai-nilai sejarah dan budaya lokal harus dijadikan pijakan untuk menciptakan narasi baru bagi masa depan peradaban.
Generasi muda Sulawesi Utara dituntut untuk mampu menyerap perkembangan global, namun tetap membawa identitas kultural daerah dalam setiap gagasan dan inovasi yang dihasilkan.

Literasi diposisikan sebagai investasi jangka panjang yang membentuk karakter masyarakat yang peduli terhadap daerahnya.
Pihak Pemprov Sulawesi Utara berharap penutupan Festival Literasi 2026 bukanlah akhir, melainkan titik pijak baru agar semangat membaca, berpikir kritis, dan berkarya terus hidup di sekolah, kampus, keluarga, hingga ruang-ruang publik.
Sebab, dari literasi lahir pengetahuan, dari pengetahuan tumbuh gagasan, dan dari gagasan tercipta karya nyata untuk mengantar Sulawesi Utara menjadi daerah yang semakin maju, sejahtera, dan berkelanjutan. (Advertorial)

Saat ini belum ada komentar