Pemkab Minahasa Gandeng FKUB Perkuat Toleransi dan Karakter Siswa di Era Digital
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, POJOKSULUT.COM –
Pemerintah Kabupaten Minahasa melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik serta Forum Kerukunan Umat Beragama menggelar Sosialisasi Bina Rohani Siswa di SMP Negeri 2 Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Selasa (19/5/2026).
Langkah ini dilakukan sebagai upaya membentengi generasi muda dari dampak negatif keterbukaan informasi dan perkembangan teknologi digital.
Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa Lynda D. Watania mengatakan, pesatnya perkembangan teknologi informasi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), ibarat pisau bermata dua.
Di satu sisi mempermudah akses pengetahuan, tetapi di sisi lain menyimpan risiko jika tidak disaring dengan baik.
”Dunia sekarang seolah tanpa batas. Informasi dari belahan Amerika atau Eropa bisa sampai ke tangan kita hanya dalam hitungan detik.

Jika tidak ada benteng yang kuat, anak-anak yang masih dalam usia rentan ini akan sangat bebas terseret ke dalam konten negatif,” ujar Lynda.
Menurut Lynda, Pemerintah Kabupaten Minahasa memilih bergerak cepat melakukan mitigasi ke sekolah-sekolah, khususnya tingkat sekolah menengah pertama (SMP) yang dinilai sebagai usia krusial dalam pembentukan karakter.
Namun, pendekatan yang dilakukan tidak menggunakan doktrin yang kaku, melainkan menyentuh akar budaya setempat dan nilai-nilai kebangsaan.
Salah satunya adalah mengaktivasi kembali modal sosial masyarakat Minahasa, yaitu tradisi mapalus atau gotong royong tanpa memandang perbedaan.
Dalam sosialisasi tersebut, Lynda juga berdialog langsung dengan para siswa untuk menguji pemahaman mereka mengenai ideologi negara.
Ia menekankan pentingnya mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah, mulai dari penghormatan terhadap kebebasan beragama hingga sikap tidak diskriminatif dalam pergaulan.
”Tidak ada warga negara Indonesia yang tidak hafal Pancasila. Itu adalah pijakan pertama kita untuk membangun kehidupan berbangsa,” kata Lynda.
Kepala SMP Negeri 2 Tondano Charlota Joselin Ngangi menyambut baik program lintas sektoral ini.
Kehadiran para siswa dari latar belakang agama yang beragam dalam satu forum dinilai menjadi miniatur kecil dari penerapan toleransi di lingkungan sekolah.
Melalui kemitraan dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang merangkul pemuka agama Kristen Protestan, Katolik, Islam, Hindu, Buddha, hingga Konghucu, kegiatan ini ditargetkan bagi sekolah-sekolah lain secara bergilir.
Program yang diinisiasi oleh Badan Kesbangpol dan FKUB Minahasa ini diproyeksikan sebagai investasi jangka panjang.
Tujuannya adalah memastikan generasi penerus tetap memiliki kesadaran toleransi yang tinggi dan kokoh dalam bingkai Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI) di tengah arus modernisasi. (nes)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar