Sejarah Panjang Mesin Penumbuk Emas Zaman Penjajahan Belanda di Ratatotok Mitra

By 10 Mar 2017, 19:35:59 WIBMitra

Sejarah Panjang Mesin Penumbuk Emas Zaman Penjajahan Belanda di Ratatotok Mitra

Mesin Penumbuk Biji Emas Peninggalan Jaman Penjajahan Belanda

Laporan : Wartawan pojoksulut.com HamzahThayeb


RATATOTOK – Peninggalan sejarah pada jaman penjajahan di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara tidaklah sedikit, terutama alat-alat perang yang ditinggal terlantar begitu saja maupun mesin-mesin penggilingan untuk kebutuhan para penjajah untuk kepentingan bangsa mereka.

Di Ratatotok, tepatnya di tempat destinasi wisata pantai Lakban, terdapat sebongkah mesin penggilingan biji emas peninggalan jaman Belanda yang sampai saat ini masih berdiri kokoh di tepian pantai.

Dulunya pesisir pantai Lakban ini adalah areal pertambangan, ini dibuktikan dengan mesin penggilingan biji emas ini, yang saat ini teronggok begitu saja tanpa diketahui fungsingnya oleh warga.

Padahal, mesin itu berperan penting saat Belanda mengangkut 5.060 kilogram emas dari tambang Gunung Mesel di Ratatotok.
Pada awal 1898 Belanda menemukan daerah tambang tersebut. Saat ditemukan terdapat lorong panjang yang sempit.

"Hal itu membuat pihak Belanda menggunakan teknik ledakan," ujar Grace Lintong Kabid Kebudayaan Disbudpar Mitra, saat pojoksulut.com mengkofirmasi tentang keberadaan mesin itu, Jumat 10/3/17.

Dari teknik peledakan kemudian ditemukan serpihan bebatuan emas. Belanda kemudian merakit mesin tersebut pada tahun 1900.
"Waktu itu hanya 20 mesin yang dirakit.

Saat itu dibangun tepat di tepi pantai dengan sarana pengangkutan menggunakan lori," jelasnya lagi. Lokasi tambang yang terus berkembang dan menghasilkan, membuat Belanda kembali membangun mesin yang sama pada tahun 1910.

"Saat itu ditambah menjadi 60 mesin. Tercatat hasil produksinya mencapai 5.060 kilogram emas dari tahun 1900 sampa 1921," lanjutnya.

Mesin tersebut, menurut Lintong, berperan penting dalam pengolahan emas oleh Belanda. "Kalau sekarang masih banyak yang tidak tahu benda apa itu, padahal memiliki sejarah panjang," terangnya.

Mesin yang saat ini terpampang di lokasi wisata Pantai Lakban ini terlihat tak terlalu diminati. Bahkan banyak orang yang tidak tau apa kegunaan benda yang mirip kereta api itu.

Beberapa wisatawan yang datang enggan mendekati benda bernilai sejarah itu, pesona pantai masih menjadi primadona.

"Di dalam mesin ada emas yang menempel cukup besar, tapi sudah tidak bisa dilepas. Ukurannya bisa mencapai kilogram," kata Lintong.
Meski begitu, menurut dia, situs sejarah tersebut aman karena terus dipantau.

"Jika ada yang mau cabut atau niat jahat sulit. Karena benda itu dibuat secara khusus dulu, dengan kualitas yang tak gampang dirusak," bebernya.

Usai kepergian Belanda dikatakannya mesin tersebut hanya dibiarkan begitu saja, sampai saat ini sudah dijadikan situs sejarah.(Hamz)

 


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Support

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Informasi Apa Yang Paling Anda Sukai?
  Pemerintahan dan Politik
  Ekonomi
  Pariwisata dan Budaya
  Kesehatan
  Kuliner
  Shopping

Komentar Terakhir

  • Barang Promosi

    Semoga akan semakin banyak seminar nasional yang mengangkat tema atau topik yang dapat ...

    View Article
  • TutuApp

    The [url=https://tutuapp.me]TutuApp [/url] is an aide which provide the paid and the ...

    View Article
  • JackNelson

    The <a href="https://tutuapp.me">TutuApp </a> is an aide which ...

    View Article
  • berita pembunuhan

    semoga angka kriminal bisa menurun ...

    View Article